Teh
Artikel

TEH INDONESIA Dari Waktu ke Waktu

0

Dari kisah yang banyak ditulis bahwa tanaman teh diketemukan pada tahun 2737 sebelum Masehi oleh kaisar Shen Nung yang juga seorang ahli pengobatan di Cina. Kemudian menjadi minuman favorit pada Dinasti Ming (1368 – 1644) karena dapat menyegarkan badan orang yang meninumnya dengan cara diseduh dengan air panas.
Teh diperkenalkan keluar Cina khususnya Asia Tengah dan Eropa pada saat pemerintahan Dinasti Han, Tang, Soon dan Yuan.

Tanaman teh masuk pertama kali ke Indonesia pada tahun 1684, berupa biji teh yang berasal dari Jepang yang dibawa oleh seorang Jerman bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Pada tahun 1826 tanaman teh ditanam sebagai tanaman koleksi di kebun Raya Bogor dan setahun kemudian ditanam dikebun percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat.
Penanaman percobaan skala besar dilakukan di Wanayasa (Purwakarta) dan Raung (Banyuwangi) dan berhasil bagus, dan keberhasilan ini mendorong Jacobson seorang ahli teh membuka usaha komersiil perkebunan teh di Jawa-Barat. Kemudian kian berkembang dengan konsentrasi di P. Jawa khususnya Jawa-Barat dan Jawa-Tengah, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Perkembangan tanaman teh di Indonesia mencapai jaman keemasannya dimulai sejak introduksi varietas Assamica ke Indonesia dan diikuti ditemukannya teknologi pengolahan teh hitam (pengolahan dengan fermentasi) yang diperkenalkan oleh Robert Fortune (1843). Booming teh ini berkisar antara tahun 1846 sampai dengan 1933, saat itu pemilik dan pengelola kebun teh merupakan orang yang terpandang dengan kekayaan yang melimpah.

Pengembangan budidaya teh Indonesia mulai melambat yang diawali adanya resesi dunia pada tahun 1929, yang kemudian diikuti kebijakan pemerintah Inggris hanya membeli teh dari negara-negara jajahanannya saja. Akibatnya harga teh menjadi turun drastis, untuk mengatasi rendahnya harga teh ini, tiga negara produsen teh terbesar saat itu (India, Srilangka dan Indonesia) bersepakat untuk meneta pasokan teh ke pasar dunia.

Perkembangan teh saat ini, Indonesia merupakan produsen teh ke 7 setelah menduduki rangking 5 pada tahun 2005 dengan pasar utama Eropa dan Timur Tengah. Indonesia menduduki urutan ke 7 setelah Cina, India, Kenya, Srilangka, Turki dan Vietnam. Pusat produksi teh Indonesia berasal dari Propinsi Jawa-Barat dengan produksi sekitar 80% dari total produksi nasional dari luas kebun sekitar 109.900 hektar.

Problema yang dihadapi oleh agribisnis teh Indonesia adalah percepatan penyusutan areal pertanaman teh yang dilakukan oleh perkebunan besar milik negara, perkebunan besar swasta nasional dan perkebunan rakyat. Selain penyusutan areal, penurunan mutu hasil juga merupakan faktor yang menyebabkan agribisnis teh Indonesia menurun. Untuk mengatasi masalah ini, maka pemerintah harus mendorong agar revitalisasi perkebunan teh segara ditindak lanjuti, disisi lain pemeliharaan tanaman, pemanenan/pemetikan daun, pengolahan dan penyimpanan produk harus ditingkatan, agar agribisnis teh Indonesia dapat diselamatkan untuk kembali berjaya.

Konsumsi teh perkapita di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan sesama negara-negara produsen teh lainnya, yakni sekitar 0,8 kilogram/orang/tahun. Hal ini terjadi mungkin saja karena sebagian besar masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi teh hanya merupakan kebiasaan untuk mengurangi rasa haus/dahaga saja, perlu pembelajaran bahwa mengkonsumsi teh tidak hanya sebagai penghilang rasa haus tetapi ada manfaat lain, kesehatan misalnya.

Perlu disadarkan pula bahwa sebenarnya Indonesia memiliki produk-produk teh olahan premium yang banyak digemari masyarakat internasional, misalnya produk olahan white tea, grey dragon, teh sencha, black tea dan Oloong tea yang diproduksi oleh perkebunan-perkebunan teh di Indonesia. Namun sayangnya produk-produk teh premium tersebut sekitar 85% dijual ke luar negeri, masyarakat Indonesia sendiri tidak sempat untuk mengkonsumsi olahan tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Ratna Somantri (Ketua Bidang Promosi Dewan Teh Indonesia), “sayang sekali jika masyarakat Indonesia justru tidak bisa mendapatkan produk teh terbaik Indonesia di pasar lokal, karena teh berkualitas baik berbanding lurus dengan kandungan manfaat untuk kesehatan”.

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertising

  • Tambak Udang

    Peluang Kembangkan Budidaya Tambak Udang Sangat Besar

    Peluang membuka tambak di seputaran Pantai Depok dan Parangtritis terbuka lebar. Hal ini tidak lain karena negara-negara penghasil udang utama dunia seperti India, Thailand, China, Vietnam, dan Meksiko mengalami penurunan. Produksi udang di berbagai dunia sedang ambleg, sehingga kesempatan untuk mengembangkan tambak udang sangat besar. Gumuk pasir kemudian dikembangkan menjadi tambak udang. Melihat peluang tersebut,…

  • Lomba copy

    PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA FOTO LMMI 2014

    Berdasarkan berita acara penjurian Lomba Foto LMMI 2014 yang dilakukan pada Hari Jum’at Tanggal 06 Februari 2015, maka segenap dewan juri : 1. Soedjai Kartasasmita ( Ketua Dewan Pembina Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia “GPPI” ) 2. Risman Marah ( Institut Seni Indonesia “ISI” ) 3. Dr. Ir. Purwadi, MS ( Rektor INSTIPER Yogyakarta ) 4….

  • ACDC

    Undangan Terbuka (Rakernas I KAINSTIPER)

    No : 72/KAINSTIPER/U/XI/14 Yogyakarta, 30 November 2014 Lampiran : 1 Hal : Rakernas Kepada Yth, Seluruh Alumni INSTIPER Yogyakarta di T E M PA T Dengan Hormat Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Rapat Kerja Nasional Keluarga Alumni Instiper (KAINSTIPER) Yogyakarta tahun 2014, dalam rangka Konsolidasi Alumni. Maka dengan ini kami mengundang Bapak Pengurus Daerah dan Pengurus…