Priyanto PS
Profil Alumni

Ir. Priyanto PS : ” Komitmen Sebagai Kunci Sukses Dalam Berkarier “

0

Kata kunci untuk meraih kesuksesan dalam hidup adalah teguh menjaga komitmen, artinya menjadi orang yang selalu berusaha memenuhi janji-janjinya atau dalam kata lain menjadi orang yang bertanggung jawab.

Kesuksesan hidup tidak dapat diukur hanya dari seberapa banyak kekayaan, seberapa tinggi pangkat dan kedudukan, dan atau seberapa panjang umur seseorang. Kesuksesan harus dilihat dari cara meraihnya serta nilai manfaat dari harta, jabatan dan umur dalam menebar kebaikan.

Hal ini disampaikan Deputy COO PT. Bumitama Gunajaya Agro ( BGA Group) Priyanto P.S. mengenai prinsip hidupnya dalam meraih kesuksesan di bidang apapun. Lahir, tumbuh dan berkembang bukan dari keluarga berada membuat pria yang masuk INSTIPER tahun 1976 ini terbiasa bekerja keras. Saat kuliah, pria kelahiran Blora ini juga harus menyambi bekerja, diantaranya sebagai Staf Unit Pelaksana Proyek Kapas Rakyat, Staf P3RPDAS dan menjadi guru di Sekolah Perkebunan di Yogyakarta. Hal ini semata dilakukan untuk membantu meringankan beban orang tua dalam membiayai kuliahnya.

Semasa kuliah, sebagian besar waktunya dihabiskan dalam dunia aktivis mahasiswa. Priyanto pernah menjabat Ketua Umum Senat Mahasiswa STIPER, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Perkebunan Indonesia, Pengurus Cabang GMNI Kota Madya Yogyakarta, dan aktivitas petualangan pendakian gunung/pengembaraan.

Bagi Priyanto P.S. yang akrab dipanggil Pri, komitmen adalah fondasi moral yang menjadi pijakan dalam menggelorakan semangat meraih kesuksesan di bidang apapun termasuk pekerjaan. Tanpa komitmen yang jelas dalam hidup, akan membuat hidup kita mudah terombang-ambing, terlebih di era kini yang cenderung materialistis dan berpaham hedonisme (menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup)

Pria yang memiliki hobi berolahraga dan touring ini juga menuturkan bahwa dalam hidup itu senantiasa harus selalu berusaha meng-upgrade diri yang bermakna tidak berhenti belajar untuk meningkatkan kekayaan intelektual dan mendongkrak prestasi. “Hidup itu harus selalu tumbuh dan berkembang, prinsipnya grow or die (tumbuh atau mati). Apabila tidak menjaga pertumbuhan dalam hidupnya maka pada dasarnya kita telah mati karena ditinggalkan oleh lajunya dinamika kehidupan,” tegasnya.

Dalam berkarier, menurutnya harus selalu meningkatkan kemampuan profesionalnya dan menjaga integritasnya. “Jika kompetensi pribadinya tidak berkembang, integritas, moralitas, dan komitmennya tidak terjaga, maka karier kita pasti akan tamat,” lanjutnya.

Hal inilah yang terus dipegang teguh olehnya. Untuk mencapai posisinya saat ini, Priyanto telah menjalani berbagai tahapan kerja keras yang panjang di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan, serta beberapa kali pindah di beberapa perusahaan perkebunan. Mengawali karier di perkebunan kelapa sawit tahun 1984 di Aceh Timur, dan tahun 1987 pindah ke Air Molek, Riau. Kemudian pada akhir 1988 bergabung di perusahaan Sadang Mas Group/Sinar Mas di Bagan Batu Riau dan Batulicin Kalsel hingga tahun 1993. Pada tahun 1994 hingga 2002 bergabung dengan PT. Harapan Sawit Lestari di Kalimantan Barat dengan jabatan terakhir sebagai Deputy Director Plantation, dan pada tahun 2004 sampai dengan saat ini bergabung dengan Bumitama Gunajaya Agro Group sebagai Deputy COO dan menjadi direktur di beberapa perusahaan di lingkungan BGA group. Meski telah menjalani profesi di dunia perkebunan selama 30 tahun, tidak merasa sedikit pun merasa bosan atau jenuh dengan pekerjaannya yang berkutat dengan dunia kelapa sawit.

“Rahasianya adalah selalu berkomitmen melakukan inovasi dan improvement, serta menghadirkan tantangan baru, sehingga setiap saat ada sesuatu yang dipikir dan dilakukan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Dengan cara tersebut akan selalu menggelitik kita untuk menghadirkan tantangan baru guna menancapkan tapak kerja terbaik sebagai, “ ungkap Priyanto.

Dalam menjalani hidup sebagai karyawan, yang perlu dipikirkan adalah dimana tempat berlabuhnya loyalitas itu. Pria 58 tahun ini secara tegas menyebutkan bahwa loyalitas itu ada pada profesi, oleh karena itu harus dijunjung tinggi nilai profesionalisme. Loyalitas tidak tepat jika diberikan pada perusahaan atau kepada atasan/pemilik perusahaan. Dengan cara tersebut maka apabila semua pihak dapat menjaga profesionalisme maka otomatis kita akan loyal pada perusahaan dan atasan. “Sebaliknya apabila kita meletakkan loyalitas pada atasan dengan mengabaikan loyalitas pada profesionalisme, maka kita akan mudah tergelincir untuk melacurkan diri kita. Cara pandang itulah yang membuat saya yakin bahwa dimanapun saya bekerja pasti mampu bersaing secara sehat.“ tegasnya.

Untuk memperoleh kesuksesan, Pri menyarankan agar karyawan membuat proyeksi perkembangan kariernya ke depan. Perlu melakukan terobosan untuk tumbuh dan berkembang mendahului tantangan pada jamannya. Harus berpikir dua langkah ke depan dari kehidupan yang sedang kita jalani untuk mengantisipasi dinamika kehidupan yang berkembang, karena bila kita berpikir seiring dengan kehidupan yang kita jalani maka akan ketinggalan dari dinamika kehidupan. “Menangkanlah kehidupan ini dengan berpikir dua langkah di depan agar kita ditunggu kesuksesan,” pesannya.

TANTANGAN SDM PERKEBUNAN KINI
Terkait dengan kebutuhan Sumber Daya Manusia di lingkungan perkebunan, menurut bapak dua anak ini diperlukan SDM yang mempunyai kemampuan hard skill yaitu kemampuan keilmuan yang berkaitan dengan kompetensi sesuai bidang kerjanya, disamping itu juga harus memiliki kemampuan soft skill secara komprehensif terutama untuk menangani aspek non teknis terutama yang berkaitan dengan masalah sosial.

Kemampuan hard skill relatif lebih mudah diperlajari melalui pelatihan, kursus, pengamatan di lapangan, diskusi, membaca, dan selalu berusaha mengaktualisasi diri saat bekerja. Aspek teknis ini relatif mudah diukur karena kesuksesan dan kegagalannya dapat diukur secara kuantitatif.

Sedangkan soft skill yang paling menonjol dan benar-benar diperhatikan adalah teknik komunikasi, leadership, rekayasa sosial, dan pendekatan sosial kemasyarakatan. Mengingat dunia perkebunan bersentuhan dengan banyak orang dengan latar belakang yang heterogen, maka dibutuhkan kemampuan yang memadai agar dapat dijaga lingkungan sosialnya.

Dibutuhkan kepekaan sosial yang memadai bagi kader pimpinan perkebunan agar berhasil dengan gemilang dalam menjalankan tugasnya, oleh karena itu sejak di bangku kuliah harus dibekali dengan pengenalan kasus-kasus nyata yang terjadi di perkebunan sehingga nantinya tidak tergagap ketika menghadapi masalah di lapangan. Perlu diberikan kesempatan untuk ikut membedah masalah sosial melalui studi kasus yang terjadi di perkebunan, disamping itu juga perlu dibekali teknik komunikasi sosial, dan mengarahkan mahasiswa perkebunan menjadi calon pimpinan yang berkarakter dan bukan sekedar atasan atau bos.

KONSOLIDASI ALUMNI DAN PARTISIPASINYA DALAM PENGEMBANGAN KAMPUS
Sebagai Ketua Umum Keluarga Alumni INSTIPER, Priyanto P.S mengajak segenap alumni untuk ikut berkontribusi memberikan sumbang sih dalam pengembangan kampus agar dapat menghasilkan kader perkebunan/kehutanan yang mumpuni. Disamping itu juga dapat memberikan akses untuk peluang kerja bagi alumni dan PKL bagi mahasiswa yang membutuhkan.

Partisipasi di atas bukan semata sebagai balas jasa terhadap institusi INSTIPER, tetapi lebih sebagai tanggung jawab terhadap pengembangan dunia pertanian Indonesia melalui penguatan INSTIPER, disamping partisipasinya secara langsung di dunia kerja.

Alumni INSTIPER berjumlah sekitar sebelas ribu orang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan profesi yang bermacam-macam, tentu merupakan potensi besar untuk dikembangkan sebagai jaringan yang dapat dijadikan sebagai infrastruktur untuk berbagai kepentingan alumni, kampus, bisnis dan dunia pertanian pada umumnya. Hal ini masih pada tataran idealisme kita, karena dalam prakteknya tidak gampang untuk merajut jaringan alumni yang nampaknya belum semua merasa “ home sick “ untuk berada di rumah KAINSTIPER.

Priyanto P.S menghimbau agar semua pihak dapat mengembangkan potensi jaringan alumni ini untuk kepentingan bisnis pribadi, kelompok, maupun kepentingan sosial dan pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara agar dapat memberikan nilai manfaat terbaik kepada sesama.

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertising

  • Tambak Udang

    Peluang Kembangkan Budidaya Tambak Udang Sangat Besar

    Peluang membuka tambak di seputaran Pantai Depok dan Parangtritis terbuka lebar. Hal ini tidak lain karena negara-negara penghasil udang utama dunia seperti India, Thailand, China, Vietnam, dan Meksiko mengalami penurunan. Produksi udang di berbagai dunia sedang ambleg, sehingga kesempatan untuk mengembangkan tambak udang sangat besar. Gumuk pasir kemudian dikembangkan menjadi tambak udang. Melihat peluang tersebut,…

  • Lomba copy

    PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA FOTO LMMI 2014

    Berdasarkan berita acara penjurian Lomba Foto LMMI 2014 yang dilakukan pada Hari Jum’at Tanggal 06 Februari 2015, maka segenap dewan juri : 1. Soedjai Kartasasmita ( Ketua Dewan Pembina Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia “GPPI” ) 2. Risman Marah ( Institut Seni Indonesia “ISI” ) 3. Dr. Ir. Purwadi, MS ( Rektor INSTIPER Yogyakarta ) 4….

  • ACDC

    Undangan Terbuka (Rakernas I KAINSTIPER)

    No : 72/KAINSTIPER/U/XI/14 Yogyakarta, 30 November 2014 Lampiran : 1 Hal : Rakernas Kepada Yth, Seluruh Alumni INSTIPER Yogyakarta di T E M PA T Dengan Hormat Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Rapat Kerja Nasional Keluarga Alumni Instiper (KAINSTIPER) Yogyakarta tahun 2014, dalam rangka Konsolidasi Alumni. Maka dengan ini kami mengundang Bapak Pengurus Daerah dan Pengurus…