Artikel

Perkebunan Masa Depan Peluang dan Tantangan

0

PERKEBUNAN MASA DEPAN PELUANG DAN TANTANGAN

I. PENGANTAR
1. Perkebunan merupakan komoditi yang mempunyai sejarah panjang di Indonesia. Nilai strategis komoditi perkebunan telah dinikmati oleh penduduk Nusantara jauh sebelum berdirinya Republik Indonesia. Berdirinya kerajaan-kerajaan besar Nusantara yang tersebar mulai dari Aceh sampai dengan Maluku Utara tidak terlepas dari kontribusi perdagangan rempah. Ironisnya nilai strategis dari komoditi perkebunan jugalah yang menjadi penyebab kolonialisme di bumi pertiwi. Keuntungan dari perdagangan komoditi perkebunan telah memungkinkan negara Belanda tinggal landas.
2. Secara historis pertumbuhan komoditas perkebunan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
• Sangat pesat: kelapa sawit
• Tumbuh steady: kakao
• Bangkit kembali: pala
• Pemulihan : cengkeh, tembakau, tebu
• Konstan: kopi, karet, kelapa, mete
• Menurun: teh, lada
Belum ada komoditas unggulan baru
1. Bentuk pengusahaan à perkebunan besar negara (6%), perkebunan besar swasta (21%), dan perkebunan rakyat (72%)
2. Jenis komoditi à terdiri atas 127 jenis tanaman, berupa tanaman tahunan dan tanaman semusim dengan areal sebaran mulai dataran rendah sampai dataran tinggi
4. Peran penting perkebunan secara ekonomis, ekologis dan sosial budaya
• Sumber Devisa è ekspor komoditi primer perkebunan > US$ 26,82 milyar (2013)
• Penerimaan Negara :
a. Cukai rokok Rp. 80 trilyun (2012), Rp. 95 trilyun (2013),
b. Pajak Ekspor Rp. 23,2 trilyun (2012) , Rp. 31,7 trilyun (2013)
c. Bea masuk Rp. 24,7 trilyun (2012), Rp. 27,1 (2013)
• Bahan Baku Industri èindustri ban, oleochemical, rokok, minyak makan, gula, coklat dll.
• Bahan Panganè tebu, kelapa, minyak sawit, kakao, j.mente
• Sumber energi è kelapa sawit, kelapa, tebu, sagu,kemiri sunan, jarak pagar
• Kesempatan Kerja dan Sumber Pendapatan Pekebun è lebih dari 18 juta KK tergantung dari on farm perkebunan
• Pengembangan wilayah è banyak daerah berkembang karena ekonomi berbasis perkebunan
• Pelestarian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup è memanfaatkan lahan yang sudah terbuka, fiksasi CO2, dalam pengembangan mengikuti kaidah-kaidah konservasi.

II. KINERJA PEMBANGUNAN PERKEBUNAN
2.6. POSISI PERKEBUNAN DI TATARAN GLOBAL
• Kelapa sawit
Penghasil utama minyak sawit dunia dengan pangsa ekspor 45%.
• Karet
Produsen karet nomor 2 terbesar di dunia setelah Thailand
• Kakao
Produsen kakao nomor 3 terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana
• Kopi
Produsen kopi terbesar ke 3 setelah Brazil dan Vietnam
• Kelapa
Produsen kelapa terbesar di dunia

IV. PELUANG PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KE DEPAN
Untuk negara kita perkebunan akan tetap berfungsi sebagai salah satu pilar ekonomi yang akan memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini dimungkinkan apabila kita dapat memanfaatkan peluang-peluang yang ada, sebagai berikut:

1. SDM
SDM indonesia begitu melimpah dan diproyeksikan akan terus bertambah. SDM manusia ini dapat menjadi salah satu keunggulan kompetitif perkebunan Indonesia yang merupakan pelaksana penggerak proses produksi dan pengembangan rantai nilai.
1. Indonesia sebagai negara tropis
Kondisi alam indonesia merupakan salah satu keunggulan komparatif yang dapat dieksplorasi untuk menjadi modal penting pembangunan perkebunan. Sebagai negara tropis maka Indonesia secara alami merupakan kawasan dengan efektivitas dan produktivitas yang tinggi dalam pemanenan dan transformasi energi matahari menjadi biomassa, feedstock bioindustri. Kondisi ini juga dapat menjadi basis keunggulan kompetitif dalam bioekonomi.
Bioekonomi adalah semua aktivita ekonomi yang menggunakan sumberdaya hayati utk menghasilkan bahan kimiawi, material dan bahan bakar nabati utk pembangunan ekonomi berkelanjutan.

IV. PELUANG PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KE DEPAN

3. Peningkatan permintaan terhadap pangan, pakan, bioenergi dan bioproduk ramah lingkungan.
Merupakan suatu peluang bagi perkebunan karena menjamin adanya pasar yang terus berkembang
3. Kecenderungan baru penghargaan atas jasa lingkungan dan jasa amenity.
Lahan perkebunan tidak hanya penghasil bahan makanan, serat dan energi tetapi juga mempunyai multifungsi yang menghasilkan jasa lingkungan dan jasa amenity. Jasa lingkungan dan jasa amenity lahan perkebunan antara lain penyedia sumber air tanah dan oksigen, pengendali banjir, pencegah erosi dan sedimentasi, sumber keindahan dan kenyamanan, pelestari kehati, pelestari budaya pedesaan, dsb.
3. Kemajuan IPTEK global
Kemajuan IPTEK global dapat dimanfaatkan untuk pengembangan inovasi pertanian dan bioindustri spesifik lokasi melalui pengembangan sistem inovasi dengan modal dasar lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang tersebar luas di seluruh Indonesia.

IV. PELUANG PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KE DEPAN
6. Sumberdaya lahan dan air
Pemanfaatan secara bijaksana potensi sumberdaya lahan dan air yang masih tersedia cukup besar di Indonesia, khususnya di luar jawa merupakan suatu peluang untuk pembangunan perkebunan
7.Momentum gerakan desentralisasi pemerintahan, partisipasi masyarakat dan reformasi tatakelola pemerintahan
Pemanfaatan momentum gerakan desentralisasi pemerintahan, partisipasi masyarakat dan reformasi tatakelola pemerintahan dapat menjadi peluang besar bagi pembangunan perkebunan apabila diarahkan untuk pengembangan sistem politik perkebunan yang digerakkan oleh dan berorientasi pada pekebun/petani kecil

V. TANTANGAN PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KE DEPAN
1. Kondisi pertanaman
Didominasi oleh tanaman tua dan rusak sehingga produktivitasnya rendah. Infrastruktur pendukung kondisinya secara umum tidak bagus sehingga efisiensi dan daya saing menjadi produk perkebunan menjadi rendah.
2. Perubahan iklim global
Perubahan iklim global akan mengurangi kapasitas (daya hasil dan stabilisasi) produksi perkebunan pada tingkat nasional dan global sehingga menjadi ancaman ketahanan pangan, ketahanan energi dan ketahanan air
3. Kelangkaan ketersediaan dan persaingan pemanfaatan lahan dan air
Akan menimbulkan kesulitan dalam ekstensifikasi lahan dan air untuk perkebunan yang selanjutnya akan mendorong munculnya gerakan land and water grabbing pada tataran global
4. Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi
Akan meningkatkan kebutuhan pangan, air dan energi sehingga kompetisi akan sumberdaya lahan dan air akan semakin beratà alih fungsi lahan
5. Inovasi Iptek semakin kompleks dan kepemilikannya ekslusif sehingga kemandirian iptek menjadi prasyarat untuk mewujudkan kedaulatan pertanian secara umum dan perkebunan secara khusus.
6. Dominasi sedikit perusahaan multinasional terhadap industri dan perdagangan sarana dan hasil perkebunan global
7. Industri perdagangan sarana dan hasil perkebunan global semakin dikuasai oleh sedikit perusahaan multinasional sehingga mengancam eksistensi usaha perkebunan skala kecil yang masih dominan di Indonesia
8. Meningkatnya permintaan terhadap jaminan dan kompleksitas atribut mutu produk telah menyebabkan pengembangan rantai nilai global yang transparan dan dapat ditelusuri (traceable) serta berkelanjutan (sustainable) sebagai syarat imperatif akses pasar bagi pekebun. Untuk perlu ditingkatkan pembinaan terhadap pekebun agar berbagai persyaratan tersebut dapat dipenuhi sehingga tidak menjadi hambatan dalam memasarkan produk-produknya.
9. Tuntutan desentralisasi pemerintahan, partisipasi masyarakat dan reformasi tatakelola pemerintahan dapat menjadi penghambat pembangunan perkebunan apabila tidak dikelola dengan baikà biaya ekonomi tinggi, tidak ada kesinambungan program karena dinamisnya pergantian SDM pengambil kebijakan, ketidaksinkronan rencana pembangunan tingkat nasional dg pemprov dan pemkab/pemkot

10. VI. UPAYA PENGEMBANGAN KE DEPAN

- Peningkatan produksi, produktivitas & mutu tanaman perkebunan berkelanjutan
1. Mengembangkan budidaya tanaman perkebunan melalui penerapan IPTEK dan 4-ASI (Intensifikasi, Rehabilitasi, Ekstensifikasi dan Diversifikasi), yang didukung dengan sistem penyuluhan dan pendampingan yang intensif
2. Mengoptimalkan dukungan penyediaan benih unggul bermutu dan sarana produksi, dukungan perlindungan perkebunan dan penanganan gangguan usaha perkebunan serta dukungan manajemen dan teknis lainnya.
- Fasilitasi pengembangan investasi usaha perkebunan
1. Fasilitasi, advokasi dan bimbingan dalam memperoleh kemudahan akses untuk pelaksanaan investasi usaha perkebunan.
2. Mendorong pelaksanaan pemanfaatan dana perbankan untuk pengembangan perkebunan terutama untuk usaha kecil dan menengah.
3. Mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif, mencakup: pengembangan sistem pelayanan prima, jaminan kepastian dan keamanan berusaha.
4. Memfasilitasi tersedianya sumber dana dari komoditi dan sumber lainnya untuk pengembangan usaha perkebunan.
5. Mendorong lembaga penjamin kredit untuk berpartisipasi dalam pembangunan perkebunan

- Pengembangan dukungan terhadap pengelolaan SDA dan lingkungan hidup
1. Meningkatkan penerapan sistem pertanian konservasi pada wilayah-wilayah perkebunan termasuk lahan kritis, DAS Hulu dan pengembangan perkebunan di kawasan penyangga sesuai kaidah-kaidah konservasi tanah dan air.
2. Meningkatkan penerapan paket teknologi ramah lingkungan.
3. Meningkatkan pemanfaatan pupuk organik, pestisida nabati, agens pengendali hayati serta teknologi pemanfaatan limbah usaha perkebunan yang ramah lingkungan.
4. Meningkatkan kampanye peran perkebunan dalam kontribusi penyerapan karbon dan penyedia oksigen dan peningkatan peran serta fungsi hidro-orologis.

- Peningkatan dukungan terhadap pembangunan sistem ketahanan pangan dan energi
1. Mendorong pengembangan komoditas unggulan nasional dan lokal sesuai dengan peluang pasar, karakteristik dan potensi wilayah dengan penerapan teknologi budidaya yang baik.
2. Optimasi pemanfaatan sumberdaya lahan, seperti lahan pekarangan, lahan pangan, lahan cadangan dan sisa asset lahan lainnya dengan pengembangan cabang usahatani lain yang sesuai.
3. Menumbuhkembangkan kawasan komoditas unggulan berbasis pedesaan dengan pengelolaan dari hulu sampai hilir dalam satu kawasan.
4. Mendorong pengembangan usaha budidaya tanaman perkebunan untuk mendukung penumbuhan sentra-sentra kegiatan ekonomi pada wilayah khusus antara lain wilayah perbatasan dan penyangga (bufferzone), wilayah konflik/pasca konflik, wilayah bencana alam serta wilayah pemekaran.
5. Mendorong pengembangan aneka produk (products development) perkebunan serta upaya peningkatan mutu untuk memperoleh peningkatan nilai tambah.
6. Meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana pendukung pengembangan perkebunan.

- Pengembangan komoditi
1. Meningkatkan pengembangan diversifikasi usahatani dengan komoditi bahan pangan di areal perkebunan secara intensif dan berkelanjutan.
2. Meningkatkan penyediaan protein hewani melalui integrasi cabang usahatani ternak yang sesuai pada areal perkebunan.
3. Mendorong ketersediaan dan keterjangkauan sumber pangan yang berasal dari perkebunan.
4. Mendorong pengembangan tanaman yang dapat dijadikan sebagai sumber bahan bakar nabati

- Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Perkebunan
1. Mengembangkan sistem informasi, mencakup kemampuan menyusun, memperoleh dan menyebar luaskan informasi yang lengkap mengenai SDM, teknologi, peluang pasar, manajemen, permodalan, usaha perkebunan untuk mendorong dan menumbuhkan minat pelaku usaha, petani dan masyarakat.
2. Meningkatkan jejaring kerja dengan institusi terkait.

- Pengembangan SDM
1. Petugas
a. Meningkatkan kualitas, moral dan etos kerja petugas.
b. Meningkatkan lingkungan kerja yang kondusif dan membangun sistem pengawasan yang efektif.
c. Meningkatkan penerapan sistem recruitment dan karir yang terprogram serta transparan untuk mewujudkan petugas yang profesional.
d. Meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dan sikap prakarsa petugas yang pro-aktif dalam mewujudkan pelayanan prima sesuai kebutuhan pelaku usaha.
2. SDM Petani dan Masyarakat
a. Meningkatkan kemampuan dan kemandirian petani untuk mengoptimasikan usahanya secara berkelanjutan.
b. Memfasilitasi dan mendorong kemampuan petani untuk dapat mengakses berbagai peluang usaha dan sumberdaya dalam memperkuat/mempertangguh usaha taninya.
c. Menumbuhkan kebersamaan dan mengembangkan kemampuan petani dalam mengelola kelembagaan petani dan kelembagaan usaha serta menjalin kemitraan.

- Pengembangan Kelembagaan dan Kemitraan Usaha
1. Mendorong peningkatan kemampuan dan kemandirian kelembagaan petani untuk menjalin kerjasama usaha dengan mitra terkait serta mengakses berbagai peluang usaha dan sumberdaya yang tersedia.
2. Mendorong terbentuknya kelembagaan komoditi yang tumbuh dari bawah.
3. Mendorong penumbuhan kelembagaan keuangan pedesaan.
4. Meningkatkan fungsi pendampingan kepada petani dan kelembagaan usahanya.
5. Mendorong kemitraan yang saling menguntungkan, saling menghargai, saling bertanggung jawab, saling memperkuat dan saling ketergantungan antara petani, pengusaha, karyawan dan masyarakat sekitar perkebunan.

- Pengembangan Integrasi Hulu-Hilir
1. Ketersediaan sumberdaya alam/lahan, tenaga kerja, teknologi maupun tenaga ahli.
2. Peran pemerintah dalam kaitan ini lebih bersifat sebagai pendorong terjadinya integrasi kegiatan on-farm dan off farm serta mengembangkan sistem dan mekanisme untuk mengatasi resiko dan ketidak pastian usaha tani.
3. Pengembangan industri hilir terpadu di sentra-sentra produksi yang memiliki potensi berkembang dengan ketersediaan bahan baku melalui kemitraan investor.
4. Peningkatan kerjasama dibidang promosi, penelitian dan pengembangan serta pengembangan SDM.
5. Fasilitasi dan pemberian intensif serta promosi investasi untuk pengembangan industri hilir terpadu.
6. Pengembangan bio-energy terintegrasi dalam hal penyediaan tanaman termasuk memfasilitasi penyediaan bibit dan benih, penyuluhan dan integrasi kegiatan pengembangan dan kegiatan pasca panen

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertising

  • Tambak Udang

    Peluang Kembangkan Budidaya Tambak Udang Sangat Besar

    Peluang membuka tambak di seputaran Pantai Depok dan Parangtritis terbuka lebar. Hal ini tidak lain karena negara-negara penghasil udang utama dunia seperti India, Thailand, China, Vietnam, dan Meksiko mengalami penurunan. Produksi udang di berbagai dunia sedang ambleg, sehingga kesempatan untuk mengembangkan tambak udang sangat besar. Gumuk pasir kemudian dikembangkan menjadi tambak udang. Melihat peluang tersebut,…

  • Lomba copy

    PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA FOTO LMMI 2014

    Berdasarkan berita acara penjurian Lomba Foto LMMI 2014 yang dilakukan pada Hari Jum’at Tanggal 06 Februari 2015, maka segenap dewan juri : 1. Soedjai Kartasasmita ( Ketua Dewan Pembina Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia “GPPI” ) 2. Risman Marah ( Institut Seni Indonesia “ISI” ) 3. Dr. Ir. Purwadi, MS ( Rektor INSTIPER Yogyakarta ) 4….

  • ACDC

    Undangan Terbuka (Rakernas I KAINSTIPER)

    No : 72/KAINSTIPER/U/XI/14 Yogyakarta, 30 November 2014 Lampiran : 1 Hal : Rakernas Kepada Yth, Seluruh Alumni INSTIPER Yogyakarta di T E M PA T Dengan Hormat Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Rapat Kerja Nasional Keluarga Alumni Instiper (KAINSTIPER) Yogyakarta tahun 2014, dalam rangka Konsolidasi Alumni. Maka dengan ini kami mengundang Bapak Pengurus Daerah dan Pengurus…