Tambak Udang
Berita

Peluang Kembangkan Budidaya Tambak Udang Sangat Besar

0

Peluang membuka tambak di seputaran Pantai Depok dan Parangtritis terbuka lebar. Hal ini tidak lain karena negara-negara penghasil udang utama dunia seperti India, Thailand, China, Vietnam, dan Meksiko mengalami penurunan. Produksi udang di berbagai dunia sedang ambleg, sehingga kesempatan untuk mengembangkan tambak udang sangat besar. Gumuk pasir kemudian dikembangkan menjadi tambak udang.

Melihat peluang tersebut, Pensiunan Kepala Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY, Sudiyanto bekerjasama dengan 21 warga di kawasan Pantai Depok Parangtritis Bantul kemudian mendirikan dan mengembangkan tambak udang sejak Februari 2014 yang lalu. Sudiyanto didampingi teknisi budidaya tambak, Bambang Satyadi menjelaskan mengenai bisnis tambak udang Kelompok Pasir Handayani tersebut saat ditemui Buletin KaInstiper di tengah-tengah panen tambak udang pada Kamis (18/12/2014) lalu.

Lahan yang ada sebelumnya tidak memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Kemudian ketika dibuat tambak mampu memberikan tambahan perekomian bagi masyarakat. Meskipun untuk membuka dan mengembangkan tambak cenderung memiliki risiko yang tinggi namun juga mampu memberikan profit yang tinggi sehingga bisa memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Lebih lanjut Sudiyanto menjelaskan risiko terbesar tambak udang tentu saja gagal panen. Gagal panen bisa disebabkan banyak hal misalnya karena penyakit pada udang atau karena persiapan lahan yang kurang maksimal. “Persiapan lahan yang kurang maksudnya lahan belum benar-benar siap ditebar benih tetapi sudah diberi benih. Lahan yang sudah siap ditaburi benih atau sudah fit adalah lahan yang telah ditumbuhi makanan alami udang yaitu plankton-plankton. Jadi kolam tambak yang sudah dibersihkan kemudian diisi air laut kemudian didiamkan hingga 10 hari kemudian sehingga makanan alami udang tersebut sudah tumbuh. Baru kemudian benih udang ditebar. Selain itu juga perlu diperhatikan berapa tinggi air, memperlakukan kincir dengan baik, oksigen juga harus tepat. Jika tidak maka udang pun bisa mati.”urainya.

Tambak udang milik Kelompok Pasir Handayani terdiri dari tiga kolam dan satu kolam baru yang masih dibangun. Saat Buletin KaInstiper berkesempatan mengunjungi tambak tersebut, ternyata tambak tersebut sudah melakukan dua kali panen. Panen pertama dilakukan sekitar Agustus 2014 dengan hasil panen sekitar 20 ton. Setelah panen pertama, kolam-kolam tersebut kemudian dibersihkan dan dikeringkan. Baru kemudian diberi air kembali dan benih udang. Dalam penuturan Sudiyanto, tambak udang dalam setahun setidaknya bisa melakukan hingga tiga kali panen. Setiap empat bulan sekali bisa melakukan panen.

Tentu saja agar hasil penen tambak lebih maksimal, tambak perlu dilakukan perawatan dengan rutin. Setiap 10 hari sekali setidaknya kolam dibersihkan dan diganti air. Namun hal tersebut tidak selalu setiap 10 hari sekali. Bisa lebih sering menyesuaikan kondisi udang. “Harus cermat melihat perkembangan udang setiap harinya. Kalau nafsu makan udang berkurang maka pasti ada sesuatu yang tidak beres. Bisa karena tingkat keasinan air yang sudah turun, air kotor, dan sebagainya. Kemudian harus segera ditemukan solusinya. Jika kurang asin maka air harus segera dibuang dan diganti dengan air laut.”jelasnya.

Merawat udang dikatakan Sudiyanto seperti halnya merawat bayi, harus penuh perhatian. Oksigen berjalan 24 jam, kincir tidak pernah mati, jangan sampai mati. Sementara jika mengalami penyakit seperti berak putih maka harus segera diatasi. Cara mengatasinya pun dalam penuturannya tidak pernah menggunakan unsur kimia. “Kami hanya menggunakan pakan murni dan kapur. Kapur ini juga bisa menambah kekerasan kulit luar udang. Tingkat kekerasan kulit udang juga dipengaruhi curah hujan. Tingginya curah hujan bisa membuat udang mengalami ganti kulit atau disebut juga dengan molting”jelasnya.

Tambak udang Kelompok Pasir Handayani dimiliki 21 warga di kawasan Pantai Depok Parangtritis Bantul. Sementara Sudiyanto dan Bambang Satyadi merupakan pemberi dana dan pembina tambak udang tersebut. “Jadi tambak udang ini semacam plasma inti. Dimana warga menyediakan lahan untuk tambak. Sementara kami menyediakan sarana dan prasarana untuk tambak. Bagaimana membuka lahan, kemudian kami juga membantu menjamin sarana produksi dan memastikan budidayanya akan berhasil. Kami juga membantu proses pemasaran tambak,”tutur Bambang.

Tidak Menyebabkan Pencemaran Lingkungan
Selama ini adanya tambak udang disebut-sebut bisa menyebabkan pencemaran lingkungan akibat dari limbah air pembuangan tambak. Namun hal ini dibantah oleh Sudiyanto dan Bambang Satyadi. Menurut Sudiyanto, proses pembuangan limbah tambak tersebut melalui proses terlebih dahulu. Dimana air tersebut diendapkan terlebi dahulu. Kemudian air diatasnya yang paling jernih baru dibuang ke laut. “Sebenarnya tidak terjadi pencemaran karena air limbah tambak ini justru bisa menjadi makanan ikan-ikan di laut. Istilah pencemaran sebenarnya tidak ada. Faktanya setiap kali panen, di bagian saluran pembuangan limbah tersebut selalu banyak orang yang memancing. Hal ini menunjukkan dengan adanya limbah yang dibuang dari tambak justru dikerumuni banyak ikan-ikan. Selain itu di area tambak juga bisa ditanami beberapa tanaman kembali,”ujarnya sambil menunjuk beberapa tanaman yang berhasil ditumbuhkan di seputaran tambak.

Baik Sudiyanto maupun Bambang mengungkapkan bahwa mereka hanya menggunakan pakan dan kapur untuk tambak mereka. Sama sekali tidak menggunakan bahan kimia. “Limbah buangan dari tambak ini sebenarnya sama seperti bahan organik yang keluar sama seperti pupuk untuk pohon. Sebagai bukti, lihat saja di ujung saluran pembuangan limbah tersebut. Justru menjadi habitat ikan dan udang. Ukuran udang maupun ikannya juga besar-besar. Jauh lebih besar dibandingkan dengan ikan-ikan di laut. Ditambah lagi ikan maupun udang di ujung saluran pembuangan tersebut juga tidak musiman sehingga orang bisa memancingnya kapan saja. Sedangkan ikan di laut sudah pasti musiman. Jadi sebenarnya usaha tambak udang tersebut tidak menyebabkan permasalahan lingkungan,”tegas Bambang yang sudah sejak 1998 berkecimpung dengan dunia tambak udang ini.

Kualitas Ekspor
Udang yang dibudidayakan Kelompok Pasir Handayani ini merupakan udang dengan kualitas ekspor. Pembeli udang-udang berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Semarang, Surabaya, Lampung dan daerah lainnya. Pembeli-pembeli tersebut sebelumnya telah dihubungi terlebih dahulu pada saat menjelang panen. Kemudian setelah diperoleh harga yang telah disepakati, pembeli akan datang ke tambak baru kemudian udang dipanen. “Udang-udang tersebut kemudian diberi es hingga beberapa kali sehingga tetap fresh bahkan sampai dibawa ekspor pun udang tetap fresh.”jelas Sudiyanto.

Pemilihan bibit udang vaname tersebut dilakukan karena lebih memiliki banyak peminat. Pasar-pasar ekspor lebih menyukai udang vaname. “Selain pasar lebih terbuka kemudian permintaan juga lebih banyak. Pemeliharaan udang https://www.viagrapascherfr.com/viagra-generique-forum-mylan/ vaname juga cenderung lebih mudah karena lebih tahan dari penyakit,”ungkap Sudiyanto.

Butuh Modal Besar
Untuk memulai pembangunan tambak udang, Bambang Satyadi menjelaskan memang memerlukan modal yang besar. Bambang menjelaskan untuk membangun tiga petak kolam dengan ukuran masing-masing kolam 45 meter x 55 meter ditambah dengan dua buah genset, dan kincir setidaknya membutuhkan modal sebesar Rp 1 M. “Kemudian memerlukan bibit-bibit udang vaname yang berkualitas. Bibit udang yang berkualitas itu disebut F1. F1 itu anak pertama dari induk utama sehingga lebih berkualitas karena lebih tahan penyakit. Dalam satu petak setidaknya memerlukan 500.000 ekor udang. Untuk bisa kembali modal setidaknya memerlukan empat kali siklus panen. Saat ini, setidaknya harga udang ukuran 50 ekor per kilogram mencapai Rp 80.000,- jika sekali panen bisa mencapai 20 ton atau lebih tinggal dihitung berapa yang diperoleh.”urainya.

Sementara pakan yang diperlukan setiap bulannya setidaknya menghabiskan 8,9 ton. Untuk pemberian makanannya dilakukan setidaknya empat hingga enam kali. “Hal ini dilakukan agar makanan jauh lebih maksimal. Udang memiliki karakter yang berbeda dibandingkan ikan. Udang cenderung lebih membutuhkan proses lama untuk menghabiskan makanan dibandingkan ikan. Sehingga kalau langsung memberi makan dalam jumlah banyak dengan waktu yang jarang, dikhawatirkan pakan tersebut justru sudah terendam air sebelum udang-udang tersebut menghabiskannya. Sehingga lebih baik sedikit-sedikit tetapi sering.”jelas Bambang.

Meskipun membutuhkan modal besar untuk membuka tambak namun menurut Bambang, adanya tambak mampu memberikan keuntungan terhadap banyak orang. “Adanya tambak tidak hanya menguntungkan pemilik, pemodal atau pengelola saja tetapi banyak orang yang diuntungkan karena mampu membuka lapangan kerja yang luas. Mulai dari pengerukan lahan, pembangunan kolam untuk tambak, perawatan kolam maupun udang, lalu pada saat panen, belum lagi tenaga untuk penyortiran udang saat panen. Sehingga peluang mengembangkan tambak udang ini sangat besar dan memberikan keuntungan terhadap banyak orang,”tegasnya menutup perbincangan.

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertising

  • Tambak Udang

    Peluang Kembangkan Budidaya Tambak Udang Sangat Besar

    Peluang membuka tambak di seputaran Pantai Depok dan Parangtritis terbuka lebar. Hal ini tidak lain karena negara-negara penghasil udang utama dunia seperti India, Thailand, China, Vietnam, dan Meksiko mengalami penurunan. Produksi udang di berbagai dunia sedang ambleg, sehingga kesempatan untuk mengembangkan tambak udang sangat besar. Gumuk pasir kemudian dikembangkan menjadi tambak udang. Melihat peluang tersebut,…

  • Lomba copy

    PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA FOTO LMMI 2014

    Berdasarkan berita acara penjurian Lomba Foto LMMI 2014 yang dilakukan pada Hari Jum’at Tanggal 06 Februari 2015, maka segenap dewan juri : 1. Soedjai Kartasasmita ( Ketua Dewan Pembina Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia “GPPI” ) 2. Risman Marah ( Institut Seni Indonesia “ISI” ) 3. Dr. Ir. Purwadi, MS ( Rektor INSTIPER Yogyakarta ) 4….

  • ACDC

    Undangan Terbuka (Rakernas I KAINSTIPER)

    No : 72/KAINSTIPER/U/XI/14 Yogyakarta, 30 November 2014 Lampiran : 1 Hal : Rakernas Kepada Yth, Seluruh Alumni INSTIPER Yogyakarta di T E M PA T Dengan Hormat Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Rapat Kerja Nasional Keluarga Alumni Instiper (KAINSTIPER) Yogyakarta tahun 2014, dalam rangka Konsolidasi Alumni. Maka dengan ini kami mengundang Bapak Pengurus Daerah dan Pengurus…