Ketut
Profil Alumni

Ir. Ketut Gede Yudantara, SP : ” Konsep Hidup Ketut “

0

Orang paling bodoh di dunia adalah mereka yang mengeluh. Kalau tidak berhasil, ya karena tidak serius. Apa yang mau dikeluhkan.

Hari Jum,at (23/01) menjelang sore, tim Buletin KaInstiper tiba di bilangan Jalan Bedugul, Denpasar. Tujuan kami bertamu ke kediaman Ir. Ketut G. Yudantara, alumnus Instiper angkatan
1977. Sampai ditujuan, ternyata sedang banyak pekerja disana, sibuk mempersiapkan Melaspas, upacara adat untuk peresmian rumah baru, yang akan dilaksanakan lusa. Rumah kediaman Pak Ketut, begitu dia begitu disapa, terkesan nyaman dan menenangkan. Dengan lanskap yang penuh dengan tanaman dan pohon nan asri serta ornamen khas Bali, betah rasanya berlama-lama berada disana.
Sang empunya rumah sudah menunggu di teras yang ‘berisik’ dengan bunyi gemericik air dari kolam ikan koi tidak jauh dari situ. Memakai kaos polo, bawahan kain batik panjang, dan menggenggam sebotol air mineral, pria 60 tahun ini menyambut kami dengan ramah. Sejurus kemudian, ia dengan antusias berbagi cerita, pengalaman serta konsep hidup yang berhasil membawanya sampai ke puncak kesuksesan.

Ketut memang punya karir gemilang. Ia sukses sebagai profesional maupun sebagai pebisnis. Memulai karir professional pada tahun 1983 sebagai Asisten Kepala Riset dan Pengembangan pada PT Tunggal Perkasa Plantation (TPP), sebuah perusahaan kelapa sawit yang berlokasi di Riau, Ketut hanya butuh 2 tahun untuk menjadi Manajer Perkebunan. Kesuksesannya terus berlanjut. Puncak karir profesionalnya adalah menjadi Direktur Pemasaran PT Astra Agro Lestari (AAL) sejak 1997.

Berhenti dari AAL, Ketut kemudian memutuskan mendirikan perusahaannya sendiri hingga sekarang. Saat ini, ia bertekun menggeluti usaha perkebunan sawit, kakao, teh dan karet. Serta memiliki pabrik olahan kelapa sawit dan turunannya seperti minyak kelapa sawit dan margarin.

Ketika ditanya apa kunci kesuksesannya, suami dari Ratna Dewi Tresna Wati ini menjawab: FOKUS. Menurutnya, ‘FOKUS – yang dalam bahasa Indonesia berarti:pusat atau memusatkan adalah singkatan dari Follow One Course Until Successful yang secara umum dapat diartikan ikuti satu hal sampai betul-betul sukses. “Ikuti terus (impianmu) sampai sukses” jelas ayah dari Yudia Ayu Dwintasari ini.

Ditambahkannya, untuk bisa sukses, seseorang harus bisa menjiwai apa yang dikerjakannya. “Ada 5 tahap yang harus dilalui: melihat, tahu, mengerti, paham, dan terakhir menjiwai. Kenapa orang gagal? Karena baru sampai level tahu. Untuk sukses, seseorang harus bisa sampai tahap menjiwai. Jangan jadi orang yang cuma tahu berkata tapi tidak tahu melaksanakan,” ungkap Ketut.

Yang menjadi konsep hidup pria kelahiran Gianyar ini adalah hidup ini harus selalu dibikin enak. Dan yang bikin hidup enak itu bukan orang lain, tapi kita sendiri. “Jangan pernah melihat kesamping, lihat diri kita dulu. Diri kita A, ya A. Tidak ada yang bisa mempengaruhi diri kita kecuali kita. Pendapat orang bisa berubah-ubah. Misalnya, sekali kita memberi orang, kita dianggap baik. Lalu kita memberi lagi berkali-kali kita dianggap lebih baik lagi. Tapi ketika kita tidak memberi sekali saja, orang menganggap kita tidak sebaik dulu. Lalu kita tidak memberi dua kali kita sudah dianggap tidak baik. https://www.viagrapascherfr.com/achat-viagra-pharmacie/ Seolah mereka lupa kalau kita sudah pernah memberi berkali-kali. Objek yang sama, orang bisa menilai berbeda. Itulah manusia,” jelasnya.

Lebih jauh ia menerangkan, semua orang mempunyai kebaikan dan keburukan. Yang menjadi tugas kita adalah bagaimana mengubah yang buruk itu menjadi kurang buruk dan meningkatkan kebaikan menjadi lebih baik. Dan yang tepenting, menurut Ketut, adalah jangan mengeluh. “Orang paling bodoh di dunia adalah mereka yang mengeluh. Apa yang mau dikeluhkan, lha kita sendiri yang melakukan. Kalau tidak berhasil, ya karena tidak serius. Apa yang mau dikeluhkan. Kalau kamu ditipu orang misalnya, ya itu karena kamu tidak cerdik. Mengeluh membuat hidup lebih susah,” kata Ketut.

Ketut berprinsip bahwa dalam hidup, silahkan lakukan apa yang mau dilakukan. Asal tidak mencuri, tidak menipu, tidak berbohong, dan selalu hormat kepada orang tua.

Semar
Disela pembicaraan kami, Ketut bercerita masa kecilnya. Dikisahkannya, sewaktu lahir sudah tampak ‘tanda-tanda’ bahwa ia adalah anak yang memiliki tuah. Oleh pendeta setempat, ia dijuluki semar dan diramalkan akan menjadi orang hebat dimasa depan. Ketika ia lahir, si Ketut bayi sudah memiliki gigi. Ketut kecil juga tidak bisa berjalan sampai usianya 7 tahun. Kakinya lemah sehingga ia harus mengisut untuk berpindah tempat. Walau begitu, Ketut kecil pada umur 6 tahun sudah bisa membaca dan berhitung walau belum masuk sekoah. Malah, teman-temannya yang bersekolah kerap belajar kepadanya. “Umur 6 tahun sudah bisa baca dan hitung walau belum masuk sekolah. Yang seumuran saya sekolah, saya yang mengajari berhitung. Saya gak bisa jalan gimana mau sekolah. ” tuturnya.

Waktu mau masuk umur 8 tahun dan mulai bisa berjalan sendiri, Ketut mulai bersekolah dan selalu juara umum. Ketut mengenang, waktu bersekolah ia tidak perlu membeli alat tulis karena selalu diberi hadiah perlengkapan sekoah atas prestasinya sebagai juara umum.

Penyuka Seni
Walau berasal dari keluarga berada, Sejak SMP pria kelahiran Gianyar, 30 September 1955 sudah hidup mandiri. Ketut remaja memanfaatkan darah seni dan selera seninya yang bagus untuk memperoleh penghasilan dengan menjadi ‘konsultan’ fashion orang-orang kaya di sekitarnya.

“Saya orang seni dan punya selera seni yang bagus. Sejak SMP saya sudah mencari uang dengan memilihkan baju untuk oang-orang kaya. Hal itu berlanjut saat kuliah di Jogja dimana saya memilihkan batik untuk mereka. Waktu kuliah, walau tidak banyak mendapat kiriman uang, sepatu saya sudah Adidas. Celana jeans merek Louis. Merek ternama waktu itu,” Ketut berkisah
Darah seni memang mengalir di tubuh Ketut. Ayahnya adalah seorang penabuh gendang. Bakat itu ia turunkan dan diekspresikan dalam bentuk berbeda. “Saya ini orang seni, dulu pernah penari dan penyanyi. Tapi saya gak pintar melukis. Saya suka seni: musik, fashion, tari. Makanya di rumah saya selalu ada drum dan sering ajak teman main band. Saya di rumah selalu full mendengar musik kecuali makan,” kata Ketut.

Hobi Membaca dan Produktif Menulis
Selain berkesenian, hobi Ketut yang lain adalah membaca. Menurutnya, tidak ada orang yang sukses yang tidak membaca. “Orang yang sukses pasti rajin membaca. Tapi, tidak semua yang rajin membaca akan menjadi orang sukses,” tuturnya.

Yang menjadi bacaaan favorit Ketut adalah buku-buku mengenai manajemen dan filosofi. Karena kegemarannya terhadap dua bidang ilmu tersebut, Ketut pun telah menulis 5 judul buku mengenai topik tersebut yang rutin diterbitkan setiap dua tahun. Diantara buku-buku yang ia tulis, dua diantaranya adalah: “Mengubah Ketidakpastian Menjadi Kekuatan” dan “Paradigm: Changing Paradigm Into Behavior”. “Saya nulis sih cepat, 2-3 bulan selesai. Biasanya tiap dua tahun meluncurkan buku,” jelas Ketut.

Menurut Ketut, ia sudah terbiasa menulis sejak muda untuk. Sewaktu kuliah, ia rutin menulis cerpen dan puisi untuk Koran Kedaulatan Rakyat (KR) dan mengisi rubrik psikologi untuk majalah Psikologi Anda. “Saya menulis untuk tambahan uang jajan. Saya sempat kuliah psikologi sebentar di UGM, makanya bisa nulis tentang psikologi untuk majalah,” jelasnya.

Terinspirasi Soekarno
Setelah memutuskan tidak melanjutkan studinya di UGM, Ketut ditelpon kakaknya dan disarankan untuk mendaftar di Stiper (sekarang Instiper) Yogyakarta. Ketut memang memendam hasrat untuk menjadi seorang insinyur seperti presiden pertama RI, Soekarno. Sehingga pada akhirnya ia mengiyakan saran untuk kuliah di Stiper.

“Sebenarnya orang tua mendorong saya untuk jadi dokter, tapi saya kok tidak berani melihat darah. Lalu saya teringat sosok Presiden Soekano yang jugaadalah seorang Insinyur. Makanya saya akhirnya memilih kuliah untuk jadi Insinyur,” jelas laki-laki yang memiliki makanan favorit tahu dan tempe ini.

Ada cerita lucu ketika pertama kali Ketut datang di Stiper. Ketika ia tiba dilokasi, keadaan kampus Stiper tidak seperti yang ia bayangkan. “Pertama saya datang kesana kok mirip gubuk. Lalu ada orang tua tidak pakai kaos datang dan bertanya sedang apa saya disini. Ini sekolah apa, kok mirip rumah dan penjaganya tak pakai baju,” Ketut bercerita sambil tertawa lepas.

Instiper Kedepan: Pentingnya Transparansi
Sebagai alumnus, Ketut memberi kontribusi yang besar bagi almamaternya. Sewaktu Instiper gagal mendapatkan cukup mahasiswa baru di pertengahan tahun 2000, Ketut yang waktu itu Ketua Alumni, berperan besar membawa Instiper keluar dari keterpurukan. Ia yang termasuk merumuskan perubahan haluan Instiper dan turun langsung mewujudkan perubahan tersebut. “Sudah mau habis sekolah itu. Tapi kita semua berusaha. Saya ikut promosi kepada kolega-kolega saya di perusahaan sawit supaya mau ngasih beasiswa untuk program studi kelapa sawit yang baru dibuka di Instiper. Akhirnya berhasil. Sebagai ketua KA Instiper, saya tidak punya pamrih apa-apa,” ungkap Ketut.

Menurut Ketut, kondisi Instiper sudah sangat baik, namun tidak boleh berpuas diri. Yang penting saat ini adalah antara yayasan dan kampus harus saling mendukung, transparan dan memperkuat alumni. Untuk meningkatkan kualitas, Ketut beharap Instiper dapat membuat kelas internasional yang mendidik mahasiswanya untuk terampil bekomunikasi dalam bahasa Inggris. “Diluar negeri sana banyak perkebunan. Jangan hanya maju di Indonesia tapi tidak bisa bersaing di luar negeri. Sehari-hari harus bahasa Inggris. Komunikasi penting. Tanpa komunikasi nol,” pungkas Ketut.

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertising

  • Tambak Udang

    Peluang Kembangkan Budidaya Tambak Udang Sangat Besar

    Peluang membuka tambak di seputaran Pantai Depok dan Parangtritis terbuka lebar. Hal ini tidak lain karena negara-negara penghasil udang utama dunia seperti India, Thailand, China, Vietnam, dan Meksiko mengalami penurunan. Produksi udang di berbagai dunia sedang ambleg, sehingga kesempatan untuk mengembangkan tambak udang sangat besar. Gumuk pasir kemudian dikembangkan menjadi tambak udang. Melihat peluang tersebut,…

  • Lomba copy

    PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA FOTO LMMI 2014

    Berdasarkan berita acara penjurian Lomba Foto LMMI 2014 yang dilakukan pada Hari Jum’at Tanggal 06 Februari 2015, maka segenap dewan juri : 1. Soedjai Kartasasmita ( Ketua Dewan Pembina Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia “GPPI” ) 2. Risman Marah ( Institut Seni Indonesia “ISI” ) 3. Dr. Ir. Purwadi, MS ( Rektor INSTIPER Yogyakarta ) 4….

  • ACDC

    Undangan Terbuka (Rakernas I KAINSTIPER)

    No : 72/KAINSTIPER/U/XI/14 Yogyakarta, 30 November 2014 Lampiran : 1 Hal : Rakernas Kepada Yth, Seluruh Alumni INSTIPER Yogyakarta di T E M PA T Dengan Hormat Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Rapat Kerja Nasional Keluarga Alumni Instiper (KAINSTIPER) Yogyakarta tahun 2014, dalam rangka Konsolidasi Alumni. Maka dengan ini kami mengundang Bapak Pengurus Daerah dan Pengurus…