Artikel

Instiper Kampus Perjuangan

0

INSTIPER KAMPUS PERJUANGAN
Oleh
Ir. H. Yitman Sugiyanto*
*) Alumni Instiper/Stiper Angkatan Kedua, selaku Pembina Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta

Ungkapan kalimat “ INSTIPER KAMPUS PERJUANGAN “ sudah sangat biasa terdengar oleh masyarakat dilingkungan kampus INSTIPER, terutama yang disampaikan melalui sambutan dari Pengelola Instiper maupun dari Pengurus Kampus pada acara-acara yang diselenggarakan oleh Instiper. Terkadang muncul pertanyaan dihati kita masing-masing, apakah tepat istilah perjuangan ditempatkan didepan nama kampus INSTIPER. Dapat juga itu hanya sekedar hiasan gaya ritorika. Untuk menjawab pertanyaan tersebut marilah kita simak sejenak fakta sejarah sejak berdirinya INSTIPER.
Tanggal 10 Desember 1958, INSTIPER didirikan di Yogyakarta, dengan nama Perguruan Tinggi Staf Perkebunan yang disingkat PTSP. Tanggal 10 Desember 1958 ditengarai sebagai puncak semangat perjuangan rakyat untuk merebut Irian Barat dari cengkeraman Belanda. Berdirinya PTSP dijadikan tonggak sejarah keberhasilan para pejuang kemerdekaan mengambil alih Perusahaan Perkebunan milik Belanda swasta, masuk lingkup penguasaan Nasional Indonesia tanpa pertumpahan darah. Ini berarti sumber dana yang digunakan untuk menopang kekuatan militer Belanda di Irian Barat sudah terputus. Tanggal 10 Desember dijadikan Hari Perkebunan. Pendiri PTSP sebagian besar adalah pelaku utama proses ambil alih Perkebunan milik Belanda, sehingga tahu persis apa yang harus dilakukan pasca ambil alih. Kampus Perguruan Tinggi Staf Perkebunan, didirikan pada puncak semangat Perjuangan, maka tepat apabila disebut Kampus Perjuangan.

*Berjuang untuk tetap survive.
Tanggal 10 Desember 1958, selesai upacara PTSP langsung diserahkan pada Yayasan Dana Pendidikan Perkebunan ( YDPP ) untuk dikelola. Ternyata YDPP tidak mampu membiayai proses belajar dan mengajar di PTSP. Selama tiga tahun tidak ada perkembangan bahkan makin merosot. Sampai dengan tahun 1961 jumlah mahasiswa terdaftar ada 110 tinggal 39 orang. Yang benar-benar aktif mengikuti kuliah tinggal 8 orang. Satu generasi mahasiswa angkatan 1961 hilang tak berbekas. Puncak kemerosotan terjadi pada tanggal 9 September 1961, 9 orang Dosen serentak mengundurkan diri, praktis kegiatan kuliah berhenti. Akan tetapi 7 orang mahasiswa yang masih ada tidak tinggal diam, bahkan membangun semangat baru, bersama Pendiri PTSP dan Ir.T.Soetadi berjuang tanpa mengenal waktu agar PTSP tetap survive, dan alhamdulillah atas ridhla Tuhan, PTSP tidak bangkrut bahkan menjadi besar sampai sekarang. INSTIPER KAMPUS PERJUANGAN.

*Berjuang untuk mengenalkan existensi PTSP.
Istilah Perkebunan masih sangat asing dilingkungan pejabat pemerintah, masyarakat termasuk pelajar dan mahasiswa. Pemerintah Hindia Belanda berusaha keras untuk merahasiakan Perusahaan Perkebunan dengan segala cara. Setiap membangun Perkebunan baru selalu ditempat tertutup (remute arrea), ilmu bercocok tanam dan teknologi pengolahan hasil, beserta pemasaran sangat dirahasiakan. Tenaga kerja orang pribumi selalu dikurung, dijadikan kuli kontrak dan dilarang banyak bergaul dengan masyarakat diluar kebun. Pendidikan orang pribumi sangat dibatasi dan dipersulit, kesempatan bersekolah dibatasi hanya sekolah di “angka-loro”, setara dengan SD klas III. Anak pamong desa dapat melanjutkan sampai SD klas V. Jangan menjadi pedagang, karena berdagang termasuk pekerjaan nista. Pendeknya semua diarahkan agar masyarakat pribumi tetap bodoh tidak menguasai kultur teknik, proses pengolahan produksi, apalagi urusan pemasaran produk hasil perkebunan sampai ekspor. PTSP yang dalam hal ini terdiri dari Pendiri, Mahasiswa, dan Pengurus PTSP berjuang terus untuk membongkar semua penghalang termasuk keterbelakangan yang dapat menghambat perkembangan dunia Perkebunan. INSTIPER KAMPUS PERJUANGAN.

*Berjuang meng-sosialisasi-kan Ilmu Perkebunan.
Usaha untuk sosialisasi Ilmu Perkebunan diawali dengan penyelenggaraan seminar untuk umum pada tahun 1963, dengan tema Membangun Perkebunan di Indonesia. Bertempat di Gedung Wanita Jl. Adisucipto depan Kolese de Britto Yogyakarta. Makalah utama disajikan oleh Pendiri PTSP dengan judul Membentuk Pemimpin Perkebunan sekaligus Manajer. Pada sampul depan tertulis jelas “ Amanat Penderitaan Rakyat “. Makalah pendamping disajikan oleh Ir.T.Soetadi, Membangun Hutan Kota. Bapak Ag.Soetanto B.Sc.bertindak sebagai Panitia Penyanggah. Semua ini adalah usaha untuk mengenalkan Ilmu Perkebunan kepada masyarakat terutama pelajar dan mahasiswa secara obyektif. INSTIPER KAMPUS PERJUANGAN.

*Kegiatan mengenalkan Kampus PTSP di Yogyakarta.
Tahun 1963 PTSP bekerja sama dengan Perusahaan Perkebunan Besar di Jateng, menyelenggarakan Pameran Perkebunan digedung Sasono Budoyo dekat Alun-alun Utara komplex Kraton Yogyakarta. Pameran diselenggarakan selama 3 hari, mulai pukul 8.00 – 21.00. Materi pameran dari N.V. Tambi, PPN Karet XIII, PPN Antan XI, dan dari Perkebunan Besar Swasta Perkebunan Kopi Tukbandung di Jateng. Materi yang dipamerkan dari bahan tanaman mulai dari biji, bibit, TBM dan contoh TM dari macam-macam komodity. Pada kesempatan itu dipamerkan bibit Kakao okulasi ( bibit klonal ), merupakan bibit kakao okulasi pertama di Jateng hasil karya alumni PTSP Karsono Magiyono dibawah bimbingan Administratur Kebun Ngobo Bapak R.H.Soetarno. Contoh produksi curah dan pakage yang siap ekspor, juga dipamerkan. Penjaga stand semuanya dari mahasiswa – mahasiswi PTSP dipimpin langsung Bp. Ir. T. Soetadi. Selama 3 hari penuh pameran mendapat perhatian luar biasa dari masyarakat Yogya dan sekitarnya, terutama pelajar dan mahasiswa dari berbagai sekolah dan Perguruan Tinggi. PTSP dan Perusahaan Perkebunan di Jateng merasa puas atas keberhasilan pameran. INSTIPER KAMPUS PERJUANGAN.

*Promosi lewat Pekan Raya Pembangunan Jateng di Semarang.
Pada bulan Juli 1963 Pemda Provinsi Jateng menyelenggarakan Pekan Raya Pembangunan (pertama kali) sebagai promosi produksi daerah seluruh Jateng yang selama ini tersembunyi. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Perusahaan Perkebunan di Jateng, dikoordinir dan dipimpin langsung oleh Pendiri PTSP. Ternyata Perkebunan menduduki stand terbesar. Penjaga stand sejumlah 35 orang perhari diambilkan dari mahasiswa PTSP secara bergantian. Akomodasi penjaga stand dititipkan di Asrama Pusdik Militer Diponegoro. Pekan Raya berlangsung selama 1 bulan penuh, mulai pukul 9.00 – 23.00. Malam Minggu sampai larut malam masih ada pengunjung. Mahasiswa PTSP makin populer karena dapat melayani pengunjung, memberikan penjelasan sangat jelas dengan sopan dan ramah. Pemda Propinsi Jateng merasa puas pameran produksi Jateng berhasil memuaskan, sehingga tiap 1 Juli dilestarikan Pekan Raya Pembangunan Produksi (PRPP) sampai sekarang. Tempat Pekan Raya yang semula di Tegalwareng, kemudian dibuatkan tempat khusus PRPP di Tanjung Mas Semarang. Secara tidak langsung PTSP ikut andil perjuangan mempromosikan produksi Jateng. INSTIPER KAMPUS PERJUANGAN.

*Berjuang untuk memperoleh Status Pengakuan Departemen Perguruan Tinggi.
Sejak tahun 1962 PTSP mulai berkembang dengan cepat, dibidang studi, pengabdian masyarakat dan komunikasi umum. Jumlah mahasiswa mulai meningkat banyak. Berkat bantuan langsung fasilitas kegiatan operasional PTSP dari Pendiri ( Perusahaan Perkebunan di Jateng ) antara lain sarana transportasi untuk antar jemput dosen disediakan mobil berplat merah, menjadikan PTSP menjadi Perguruan Tinggi Swasta terdepan di Yogyakarta. Kemajuan PTSP menyebabkan YDPP ingin menarik kembali, mengasuh PTSP, namun PTSP menolak keras. Perjuangan PTSP dilanjutkan untuk memperoleh status Pengakuan dari Departemen Perguruan Tinggi. Pada saat itu PTSP baru diakui oleh Departemen Legiun Veteran Republik Indonesia dengan S.K. No. 3V/KPTS/1957, tanggal 25 September 1962. Pada saat itu Undang-undang Perguruan Tinggi belum diberlakukan. Di Yogyakarta belum ada Kopertis. Untuk mengurus status Pengakuan, petugas dari PTSP harus mondar-mandir Yogya- Jakarta minimal sebulan sekali selama satu setengah tahun. Kendala yang dihadapi, terutama Pejabat di Departemen belum faham istilah Perkebunan. Pertanyaan yang muncul selalu menanyakan “ Kenapa Perkebunan, bukan Pertanian ?. Akhirnya mereka dapat menerima kenyataan setelah Ka.Biro Departemen PTIP melakukan kunjungan dinas ke Yogya, checking on the spot ruang kuliah, data administrasi, laboratorium dan perpustakaan. Bulan Mei 1963 petugas PTSP dipanggil ke Jakarta, Piagam status diakui untuk PTSP siap diserahkan, namun diganjal surat dari YDPP yang isinya status diakui mohon ditunda karena yang berhak mengajukan pengakuan adalah YDPP. Bertepatan dengan itu Undang-undang Perguruan Tinggi mulai diberlakukan. Perguruan Tinggi Swasta harus dikelola oleh Yayasan. Ada 3 tingkatan status yang harus dilalui, terdaftar, diakui dan disamakan. Perjuangan memperoleh status semakin panjang. INSTIPER KAMPUS PERJUANGAN.

*Berjuang dengan mentaati Undang-undang yang berlaku.
Beberapa langkah usaha yang dilakukan PTSP :
1. Mendirikan Yayasan sebagai pengelola PTSP, yaitu Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan (YPKP) pada tanggal 5 Nopember 1963 dengan akta Notaris RM.Wiranto Nomor 4/1963.
2. Mendaftarkan PTSP ke Departemen PTIP sehingga PTSP berstatus Terdaftar. Oleh Departemen PTIP nama PTSP diganti menjadi Pendidikan Tinggi Perkebunan ( PTP ), kemudian diganti lagi menjadi Sekolah Tinggi Perkebunan ( STIPER ). Sejak 27 Mei 1964 nama Perguruan Tinggi Staf Perkebunan secara resmi diganti lagi menjadi Sekolah Tinggi Perkebunan ( STIPER ).
3. Berjuang untuk dapat mengikuti Ujian Negara, ternyata berhasil. STIPER mengikuti ujian negara pertama kali tanggal 20 Mei – 2 Juni 1965. Prosentasi lulus 92%. Selanjutnya tiap kali ujian prosentase kelulusan selalu baik, rara-rata diatas 90%, sehingga status STIPER mulai status terdaftar, makin meningkat menjadi diakui dan akhirnya disamakan. Keberhasilan ini merupakan hasil perjuangan suci dengan semangat baja dari seluruh komponen di STIPER. INSTIPER KAMPUS PERJUANGAN.

Uraian diatas sekedar contoh cuplikan aksi perjuangan yang dilakukan kampus, sehingga cukup beralasan untuk memberi julukan INSTIPER KAMPUS PERJUANGAN.

Pada saat ini aksi perjuangan kampus INSTIPER makin digalakkan, perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan kampus, perjuangan untuk menemukan sistem pembelajaran yang tepat, praktis dan efisien, perjuangan membangun karakter kebangsaan yang jujur, disiplin dan beradab dan masih banjak lagi perjuangan yang dicanangkan untuk kemajuan INSTIPER kita yang tercinta. INSTIPER KAMPUS PERJUANGAN.

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertising

  • Tambak Udang

    Peluang Kembangkan Budidaya Tambak Udang Sangat Besar

    Peluang membuka tambak di seputaran Pantai Depok dan Parangtritis terbuka lebar. Hal ini tidak lain karena negara-negara penghasil udang utama dunia seperti India, Thailand, China, Vietnam, dan Meksiko mengalami penurunan. Produksi udang di berbagai dunia sedang ambleg, sehingga kesempatan untuk mengembangkan tambak udang sangat besar. Gumuk pasir kemudian dikembangkan menjadi tambak udang. Melihat peluang tersebut,…

  • Lomba copy

    PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA FOTO LMMI 2014

    Berdasarkan berita acara penjurian Lomba Foto LMMI 2014 yang dilakukan pada Hari Jum’at Tanggal 06 Februari 2015, maka segenap dewan juri : 1. Soedjai Kartasasmita ( Ketua Dewan Pembina Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia “GPPI” ) 2. Risman Marah ( Institut Seni Indonesia “ISI” ) 3. Dr. Ir. Purwadi, MS ( Rektor INSTIPER Yogyakarta ) 4….

  • ACDC

    Undangan Terbuka (Rakernas I KAINSTIPER)

    No : 72/KAINSTIPER/U/XI/14 Yogyakarta, 30 November 2014 Lampiran : 1 Hal : Rakernas Kepada Yth, Seluruh Alumni INSTIPER Yogyakarta di T E M PA T Dengan Hormat Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Rapat Kerja Nasional Keluarga Alumni Instiper (KAINSTIPER) Yogyakarta tahun 2014, dalam rangka Konsolidasi Alumni. Maka dengan ini kami mengundang Bapak Pengurus Daerah dan Pengurus…