DSC_0489
Artikel

Dunia Pertanian, Siapkah Hadapi MEA…?

0

Tahun 2015 baru beberapa hari kita lalui. Itu berarti Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sebentar lagi akan diberlakukan. Sebagai layaknya sebuah komunitas, kelahiran MEA tentunya melalui proses panjang karena harus mengintegrasikan kepentingan Negara-negara Asean (Indonesia,Myanmar,Filipina,Malaysia,Thailand,Brunei,Kamboja,Vietnam,Laos) baik di bidang ekonomi socialbudaya,ideology politik,dan kepentingan yang berbeda beda. Irwan Andri Atmanto dan Bernadettta Febriana menyebutkan dalam blueprint Masyarakat Ekonomi ASEAN terdapat empat pilar pendekatan strategis yakni menuju pasar tunggal dan basis produksi, menuju wilayah ekonomi yang berdaya saing tinggi, menuju kawasan dengan pembangunan ekonomi yang seimbang, dan menuju integrasi penuh dengan ekonomi global. Indonesia, tampaknya harus berjuang sekuat tenaga lantaran berbagai masalah multi dimensi syarat kepentingan masih cukup menonjol. Lantas bagaimana kesiapan pertanian (dalam arti luas) menghadapi komunitas besar ini.

MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)
Barangkali perlu disimak sejarah kebersamaan dalam berbagai bidang/aspek kehidupan bangsa bangsa yang tergabung dalam kelompok negara negara Asean sampai terbentuknya MEA.
Tabel 1. Beberapa Keputusan Yang Diambil Dalam Pertemuan KepalaNegara ASEAN

Tahun
Apa yang tercatat dalam Tabel 1 arahnya lebih menunjukkan pada “semangat liberalisasi perdagangan” antar negara negara Asean dan negara mitra diluar Asean. Ketika palu liberalisasi itu telah diketok, maka semua negara yang terlibat didalamnya, otomatis akan terlibat dalam lalu lintas perdagangan yang menghasilkan beberapa potret negara pelaku yaitu: a). Negara pasar bagi produk negara negara pelaku lainnya dan b). Negara produsen yang memiliki kemampuan untuk membanjiri negara pasar dengan produk andalannya. c). Kemungkinan lainnya adalah persaingan ketat produk andalan antar negara anggota. Memang yang diharapkan dari MEA adalah semangat untuk meningkatkan kualitas produk andalan sehingga mampu bersaing secara sehat, serta memiliki kontribusi significant kepada masing masing negara anggota.

Dalam urusan siapa menjadi pasar siapa, atau siapa bersaing dengan siapa, barangkali dapat dianalisis dari posisi tiap negara anggota Asean. Bagaimanakah posisi masing-masing negara?
Tabel 2. Posisi GDP, pendapatan/kapita dan jumlah penduduk negara anggota Asean

Informasi penting dari Tabel 2 tersebut adalah sebagai negara berpenduduk cukup besar, ternyata pendapatan/kapita penduduk Indonesia cukup rendah dibanding Malaysia dan Thailand. Fakta tersebut mengingatkan kita bahwa produktivitas penduduk masih rendah. Cukup dengan menggunakan cara berpikir sangat sederhana, sudah dapat dipastikan bahwa Indonesia dengan kondisi seperti itu, hanya memiliki dua pilihan menghadapi MEA yaitu : a). Menjadi pasar bagi produk negara negara tetangga/ negara lain, karena jumlah penduduk yang besar identik dengan konsumen yang harus dipenuhi kebutuhannya. Dengan kata lain, penduduk dianggap tidak memiliki kemampuan memadai untuk melakukan aktivitas produksi yang mampu bersaing. b). Menutupi kelemahan itu dengan mengembangkan produk produk eksklusif kedaerahan seperti pala di Maluku, cendana di NTT, jati di Jawa, buah merah di Papua, berikut industrinya untuk meningkatkan nilai tambah.

KESIAPAN SEKTOR PERTANIAN MENGHADAPI MEA
Sebenarnya, komoditas pertanian merupakan komoditas investasi paling menjanjikan sedunia dibanding komoditas lain. Tetapi tidak pernah ada tanda tanda komoditas ini menguntungkan Indonesia. Betapa tidak, selama bertahun tahun Indonesia mengekspor hasil hasil pertaniannya dalam bentuk bahan mentah, atau paling tidak produk setengah jadi, sementara dalam tahun yang sama, mengimport produk produk industry berbahan mentah dari Indonesia. Tentu, dari kacamata ekonomi pasti ada yang diuntungkan yaitu bangsa lain karena menikmati nilai tambah cukup besar. Prof.M.Maksum Machfoedz, guru besar Agroindustri FTP UGM (Kedaulatan Rakyat,24 Novempber 2014) menyebutnya bangsa kita sudah lama berbaik hati dengan mempersembahkan nilai tambah produk pertanian kepada bangsa lain. Sementara kemudian memosisikan bangsanya menjadi terjajah dalam konsumsi yang semakin tergantung kepada importasi. Sebagai gambaran, Indonesia melakukan eksportasi CPO, getah karet, butir kopi, kakao,dll. Sebaliknya, bersedia menerima produk produk hasil proses industry dari negara negara lain dalam bentuk bio-diesel, ban kendaraan, wedang kopi impor (starbuck), permen cokelat Eropa dst.

MEA, sebentar lagi akan dilaksanakan. Pertanyaan besarnya adalah, siapa yang diuntungkan? Kalau ditilik dari income/capita, barangkali Singapore yang memiliki kesempatan pertama meraup keuntungan. Sementara Brunei, walaupun memiliki income/capita tinggi tetap tidak akan mampu bersaing dengan Singapore karena selain kualitas sumberdaya manusianya, pembangunan ekonomi Singapore tidak berbasis pada sumberdaya alam seperti yang terjadi di Brunei.

Prasyarat lingkungan/iklim investasi sebagai factor pendukung kesiapan sector pertanian yang perlu dimiliki oleh Indonesia ketika harus memanfaatkan MEA adalah: membangun infrastruktur, mentalitas SDM, kesinambungan pasokan sumber energi, bunga perbankan yang rendah dan meminimalkan penyelundupan serta ruwetnya birokrasi. Masih banyak pekerjaan prasyarat yang harus dirampungkan, bahkan perlu waktu lama. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau banyak pihak mempertanyakan mampukah sector pertanian kita bersaing dengan negara negara tetangga sesama anggota ASEAN maupun dengan negara negara (sahabat) diluar mitra ASEAN. Sejumlah persoalan daya saing industri lokal menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Kendati angka angka pada Tabel 3 tersebut sudah menunjukkan kontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi tetap saja merupakan sebuah ironi ketika nilai tambah (juga cukup besar) masih dinikmati oleh bangsa lain yang justru lebih kaya. Mengapa tidak mau belajar dari perubahan komoditi kopi walaupun belum sepenuhnya memuaskan. Sekarang cara mengkonsumsi kopi sudah berkembang pesat. Hampir disetiap sudut kota, dapat dijumpai tempat menikmati seduhan kopi sehingga mampu menarik berbagai kalangan konsumen dalam negeri. Memang, semuanya diawali dari teknologinya Starbuck. Tetapi kreativitas untuk mengembangkan teknik penyajian, tumbuh melokal. Tampak nyata, betapa besar kapasitas anak bangsa untuk menciptakan nilai tambah. Bagaimana komoditi ekspor yang lain terutama kelapa sawit yang merajai nilai ekspor > 50%. Juga karet dengan kontribusi >25%. Jagung tampak nyata dengan teknologi popcorn. Di Yogya,ada teknologi coklat”manggo” yang mulai dikenal sejajar dengan bakpia Patuk.

Menjadi orang Indonesia, tidak perlu bertanya tentang kapasitas produksi bahan baku, kapasitas teknologi dan rekayasa, karena semua dapat dijawab. Prof.M.Maksum Machfoedz lebih suka mengatakan untuk membangun sektor pertanian Indonesia, perlu ada kemenyatuan tiga dimensi: agro-techno-preneurship agar mampu bersaing. Dari beberapa diskusi kewirausahaan yang diikuti penulis, Indonesia dinilai sulit maju pesat karena jumlah wirausahawannya masih rendah apabila dibandingkan dengan Jepang dan Amerika. Oleh karena itu, tidak mudah menggeser posisi Malaysia yang lebih maju karena konstruksi perekonomiannya telah berbasis industry manufaktur, bukan lagi berbasis sumberdaya alam seperti Indonesia. Itulah tantangan bagi pemerintah untuk memperhatikan tiga serangkai agro-techno-preneurship dalam menangani sumberdaya alamnya agar mampu bersaing dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Liberalisasi sektor petanian dalam MEA tidak hanya menjangkau antar negara anggota ASEAN,tetapi antara ASEAN dengan negara negara diluarnya seperti China, India, dll. Oleh karena itu semua hambatan dalam negeri seperti: infrastruktur, birokrasi, kualitas SDM, sinergi kebijakan nasional-daerah, daya saing pengusaha nasional, korupsi dan pungutan liar yang menyebabkan high cost economy, harus ditangani segera. Kalau tidak, Indonesia akan menjadi pasar empuk bagi komoditas negara negara tetangga. Bahkan komoditas apapun….

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertising

  • Tambak Udang

    Peluang Kembangkan Budidaya Tambak Udang Sangat Besar

    Peluang membuka tambak di seputaran Pantai Depok dan Parangtritis terbuka lebar. Hal ini tidak lain karena negara-negara penghasil udang utama dunia seperti India, Thailand, China, Vietnam, dan Meksiko mengalami penurunan. Produksi udang di berbagai dunia sedang ambleg, sehingga kesempatan untuk mengembangkan tambak udang sangat besar. Gumuk pasir kemudian dikembangkan menjadi tambak udang. Melihat peluang tersebut,…

  • Lomba copy

    PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA FOTO LMMI 2014

    Berdasarkan berita acara penjurian Lomba Foto LMMI 2014 yang dilakukan pada Hari Jum’at Tanggal 06 Februari 2015, maka segenap dewan juri : 1. Soedjai Kartasasmita ( Ketua Dewan Pembina Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia “GPPI” ) 2. Risman Marah ( Institut Seni Indonesia “ISI” ) 3. Dr. Ir. Purwadi, MS ( Rektor INSTIPER Yogyakarta ) 4….

  • ACDC

    Undangan Terbuka (Rakernas I KAINSTIPER)

    No : 72/KAINSTIPER/U/XI/14 Yogyakarta, 30 November 2014 Lampiran : 1 Hal : Rakernas Kepada Yth, Seluruh Alumni INSTIPER Yogyakarta di T E M PA T Dengan Hormat Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Rapat Kerja Nasional Keluarga Alumni Instiper (KAINSTIPER) Yogyakarta tahun 2014, dalam rangka Konsolidasi Alumni. Maka dengan ini kami mengundang Bapak Pengurus Daerah dan Pengurus…