IMG_9421
Profil Alumni

Ir. R. Azis Hidayat, M.Mgt : ” Alumni Instiper Gak Boleh Terbelakang “

0

Meskipun lulusan dari Perguruan Tinggi Swasta, namun jangan sampai minder atau rendah diri. Alumni Instiper tidak boleh terbelakang tetapi harus mampu menunjukkan kemampuan. Itulah keyakinan yang dimiliki Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Ir. R. Azis Hidayat, M.Mgt.

Alumni Teknik Perkebunan, Instiper angkatan 1976 ini mengatakan untuk bisa mencapai posisinya saat ini (Inspektur Jenderal Kementan) banyak proses panjang yang harus dilalui. Awalnya setelah lulus dari Instiper tahun 1984, Azis mengatakan telah mencoba mendaftar di PTP Nusantara, Dinas Perkebunan atau Ditjen Perkebunan namun semua gagal. “Ada yang mengatakan sedang tidak ada lowongan, ada pula yang dikarenakan tidak lolos seleksi.”ujarnya.

Akhirnya kesabarannya membuahkan hasil. Setelah dengan kenekatannya mendaftar di Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal di Jakarta. “Saat itu saya buta, tidak punya apa-apa, nekat saja. Niatnya hanya nyari keberkahan. Alhamdulillah bisa lolos. Itu pun tahapannya cukup lama. Ada empat tahapan yang harus dilalui. Dari proses wawancara dari bulan Juli 1984, tes tertulis, kemudian psikotes. Dari 200 orang lebih, diterima 29 orang termasuk saya.”ujarnya. Tidak hanya sekedar diterima, pria yang memiliki hobi fotografi ini pun juga telah memperoleh status CPNS pada 1 Maret 1985. Dua tahun kemudian, diangkat sebagai Pemeriksa Perkebunan pada 1987.

Saat sudah berada di Direktorat Jenderal di Kementerian Pertanian, kebanyakan rekan sejawatnya lulusan dari PTN. Dari 29 orang yang diterima, lulusan dari PTS hanya beberapa saja dan posisinya seringkali dipandang sebelah mata. “Seringkali dinyek (diremehkan-red) Instiper itu dimana kampusnya? Dalam hati saya gak marah tetapi ingin menunjukkan bahwa Alumni Instiper mempunyai keunggulan, gak boleh terbelakang,”urainya.

Kemudian Azis pun mulai bergerilya karena terdorong ingin membuktikan diri meskipun dari PTS bisa berhasil dan sukses. “Tahun 1985 saya mulai mengikuti kursus pengawasan. Padahal saya kan di bidang perkebunan. Belajar ilmu baru, mulai dari diklat keuangan, pembukuan, akuntansi dan lainnya. Alhamdulillah setiap kursus saya selalu memperoleh rangking satu, sehingga diperhitungkan sama atasan.”jelasnya.

Tidak hanya berhenti di situ saja. Melihat banyak orang Irjen yang belum S2, zaman masuk Itjen, saingannya ada 29 orang Aziz kemudian berencana mencoba untuk kuliah lagi. Kemudian Azis belajar bahasa Inggris secara otodidak melalui siaran radio Australia setiap pagi karena tidak ingin memberikan beban pada orang tua jika kursus bahasa Inggris.

Kemudian keberuntungan memayunginya. Tahun 1989 Azis mengikuti tes untuk program ke luar negeri melalui OTO Program di Bapenas. “Tes tersebut diikuti seluruh kementerian. Dari Itjen, hanya saya yang lolos. Sedangkan yang lulusan dari negeri KO (tidak lolos-red) semua. Saya mendapat kesempatan kursus bahasa Inggris selama setahun.”pungkasnya.

Untuk melajutkan pendidikan pasca sarjana, banyak proses pula yang harus dilalui. Awalnya memperoleh tawaran untuk kuliah di Hawai tetapi TOEFL dianggap masih kurang sehingga batal. Kemudian sempat pula akan belajar di Amerika namun karena suatu hal akhirnya batal. Akhirnya Azis memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan pasca sarjana di University of the Philippines at Los Banos (UPLB) pada 1992 hingga 1994 dan lulus Master of Development Management dengan predikat Summa Cum Laude. Saat kuliah di Filipina tersebut, Azis juga memperoleh beasiswa dari World Bank.

Melalui kerja kerasnya, dengan menunjukkan eksistensinya bapak dengan tiga anak ini berhasil membuktikan. Meskipun berasal dari universitas swasta, namun secara bertahap berhasil memperoleh posisinya saat ini. Pada 1997 menjadi Inspektur Pembantu Bidang Perkebunan. Setelah mengikuti Dikpim tingkat II pada 2002 selanjutnya pada 2005 menjadi Inspektur III yang bertugas mengawasi Ditjen Perkebunan dan Badan Litbang Pertanian. Pada 2006 hingga 2010 menjadi Inspektur I yang bertugas mengawasi Sekretariat Jenderal, Badan PPSDMP, dan Ditjen Hortikultura. Akhirnya pada 1 November 2010 menjadi Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian hingga sekarang. Azis Hidayat merupakan satu-satunya alumnus PTS dari 17 eselon I di Kementerian Pertanian.

Emban Amanah
Azis pun tidak segan-segan membagi kunci sukses dalam meniti karier. “Kunci sukses saya bisa naik karena saya bisa mengemban amanah, saya tidak mau neko-neko. Menjadi pribadi yang amanah, profesional dan akuntabel. Artinya menjadi pribadi yang lebih mengutamakan apa yang bisa diperbuat untuk masyarakat, bukan apa yang diperoleh dari profesi atau pekerjaan atau jabatannya,”ungkapnya.

Setiap proses yang harus dilalui baginya merupakan anugerah dari Allah SWT. Termasuk sejak lulus dari Instiper, kemudian diterima di Kementerian Pertanian, dan menjadi Irjen semua telah digariskan oleh Allah SWT. “Semua telah digariskan. Meskipun saya lulus agak lama, kemudian sempat ditolak saat melamar pekerjaan, sempat difitnah dan lainnya. Kalau saya stress, menyalahkan Allah belum tentu saya memperoleh posisi seperti ini. Setiap kegagalan atau kesuksesan yang tertunda, pasti ada hikmah. Mungkin jalannya memang harus seperti ini. Inilah pentingnya spiritual quotien. Kita harus selalu sabar, tawakal, gigih dan jangan menyalahkan orang lain.”tegasnya.
Pesan Bagi Civitas Akademia Instiper

Sebagai bukti kecintaannya pada Instiper, Azis juga tidak segan membagi informasi saat ada lowongan di Kementan. Selain itu jika di Kementan terdapat alumni Instiper, Azis juga menginformasikannya dengan Instiper.

Sementara untuk semua civitas akademika Instiper baik dosen maupun mahasiswa, Azis memberikan pesan khusus. Pesan yang dihadirkan dalam bentuk singkatan dari INSTIPER dimana setiap hurufnya mengandung makna masing-masing.

I adalah Integritas. “Integritas merupakan barang langka di Indonesia. Saat ini banyak orang berkuasa memiliki gelar tinggi, jabatan tinggi mulai dari menteri, gubernur, bupati, bahkan rektor. Tetapi karena tidak memiliki integritas akhirnya berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Itulah sebabnya integritas itu penting.”urainya.
N adalah No Corruption. “Mahasiswa Instiper setelah lulus kemudian bekerja dimanapun jangan sampai melakukan korupsi. Harus menjaga image almamater.” tegasnya.
S adalah Smart. “Mahasiswa dan dosen Instiper harus smart, cerdas. Harus selalu update pengetahuan. Harus selalu diasah terus,”tambahnya.
T adalah Trustworthy. “Kepercayaan harus dijaga dimanapun, menjadi apapun. Harus selalu bisa menjaga kepercayaan, mengemban kepercayaan. Karena dasarnya adalah amanah. Bekerja sesuai amanah, tidak punya kepentingan, tidak punya pamrih, yang penting profesional sehingga dipercaya.”tuturnya.
I adalah Inovatif. “Baik mahasiswa maupun dosen harus mengembangkan inovasi baru. membuat gerakan-gerakan baru untuk perubahan yang lebih baik. Misalnya saat saya berkomitmen dengan gerakan antikorupsi,”lanjutnya.
P adalah Profesionalism. “Dosen juga perlu menunjukkan profesionalisme. Meskipun Indek Prestasi Kumulatif (IPK) itu tidak selalu menjamin seseorang memperoleh kesuksesan namun jangan terlalu pelit memberikan IPK pada mahasiswa.”harapnya.
E adalah Excelent. “Dosen dan mahasiswa dimanapun berada harus mampu menunjukkan keteladanan, harus bisa menunjukkan pribadi yang unggul,”tambahnya.
R adalah Responsive. “Harus responsif, pro dengan perubahan. Selalu memperbarui diri melalui berbagai media termasuk media internet,”tandasnya.

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertising

  • Tambak Udang

    Peluang Kembangkan Budidaya Tambak Udang Sangat Besar

    Peluang membuka tambak di seputaran Pantai Depok dan Parangtritis terbuka lebar. Hal ini tidak lain karena negara-negara penghasil udang utama dunia seperti India, Thailand, China, Vietnam, dan Meksiko mengalami penurunan. Produksi udang di berbagai dunia sedang ambleg, sehingga kesempatan untuk mengembangkan tambak udang sangat besar. Gumuk pasir kemudian dikembangkan menjadi tambak udang. Melihat peluang tersebut,…

  • Lomba copy

    PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA FOTO LMMI 2014

    Berdasarkan berita acara penjurian Lomba Foto LMMI 2014 yang dilakukan pada Hari Jum’at Tanggal 06 Februari 2015, maka segenap dewan juri : 1. Soedjai Kartasasmita ( Ketua Dewan Pembina Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia “GPPI” ) 2. Risman Marah ( Institut Seni Indonesia “ISI” ) 3. Dr. Ir. Purwadi, MS ( Rektor INSTIPER Yogyakarta ) 4….

  • ACDC

    Undangan Terbuka (Rakernas I KAINSTIPER)

    No : 72/KAINSTIPER/U/XI/14 Yogyakarta, 30 November 2014 Lampiran : 1 Hal : Rakernas Kepada Yth, Seluruh Alumni INSTIPER Yogyakarta di T E M PA T Dengan Hormat Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Rapat Kerja Nasional Keluarga Alumni Instiper (KAINSTIPER) Yogyakarta tahun 2014, dalam rangka Konsolidasi Alumni. Maka dengan ini kami mengundang Bapak Pengurus Daerah dan Pengurus…